OpiniPendidikan

Candi Badut Yang (Tidak Lagi) Ceria

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

Candi Badut Yang Tidak Lagi Ceria
Candi Badut

Setelah 25 tahun, akhirnya sore ini saya main-main lagi ke Candi Badut, salah satu peninggalan purbakala yang ada di Kabupaten Malang. Berduaan sama si Jaga Nusantara tentunya, dalam rangka memperdalam kecintaannya terhadap budaya sendiri.

(Ps : Si Jaga Nusantara ini, meskipun punya darah Tionghoa, tapi dia hafal tokoh-tokoh pewayangan dan bisa nembang beberapa lagu Jawa. Sapa dulu donk yang mendoktrin :p)

Ya, jadi memang sudah 25 tahun lalu sejak saya main ke candi ini, tepatnya di tahun 1993 lalu bersama bapak dan adik dengan bersepeda (jadi ingat betapa tidak macetnya Malang di waktu itu).

Jujur aja dulu mendengar nama “Candi Badut”, yang ada di benak saya adalah arca berbentuk Ronald McDonald begitu. Tapi ya jelas enggak mungkin to?

Jadi dari mana asal penamaan “Candi Badut”?

Sebenarnya ada beberapa versi soal ini tapi yang paling masuk akal menurut saya ada dua saja. Pertama, nama ini berasal dari kata “Ba-Dyut” yang artinya “cahaya”, di mana ini mengacu kepada cahaya yang dipancarkan oleh Rsy Agastya alias Siwa yang merupakan alasan dari pembangunan candi ini, menurut Prasasti Dinoyo. Kedua, nama ini berasal dari nama kecil Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan yaitu “Liswa”, yang berarti “anak yang lucu”. Konon Raja Gajayana ini memiliki sifat humoris, sehingga nama candi ini pun dinamakan “Candi Badut”, untuk menghormati Raja Gayajana yang konon suka ngebadut.

Kerajaan Kanjuruhan adalah salah satu kerajaan tertua yang ada di Nusantara, dengan rajanya yang terkenal yaitu Raja Gajayana. Tapi coba tanyakan kepada anak-anak muda Indonesia, pernah ga denger nama Kanjuruhan atau Gajayana? Pasti banyak yang ga tau. Kalau pun tau kira-kira jawabannya adalah “kandangnya Arema” (stadion maksudnya).

Nah, begitulah sore ini saya niatkan diri untuk berkunjung lagi ke Candi Badut bersama si Jaga Nusantara. Ternyata jaraknya cuma 7 menit aja dari rumah saya di kawasan Tidar menurut GPS. Yang membuat saya sedikit kaget adalah keberadaan candi tsb ternyata tidak jauh dari jalan yang cukup sering saya lalui.

Baca Juga:  MENYAMBUT PERINGATAN RAPAT RAKSASA IKADA 19 SEPTEMBER 1945

Kenapa saya kok ga tau? Karena ga ada papan petunjuk arah sama sekali.

Jadi kalau dari jalan raya, ada jalan kecil berbatu menuju ke candi yang tersembunyi di balik bangunan pertokoan dan warung-warung. Kalau kita jeli, dari jalan raya sebenarnya kelihatan kok pagar kawat khas bangunan purbakala. Cuma memang yang jadi keprihatinan saya adalah tidak adanya papan petunjuk arah candi itu menandakan kekurangpedulian Pemerintah terhadap situs purbakala ini.

Oke, saya pun masuk dan parkir di lapangan yang lumayan luas. Ga ada tukang parkir di sini. Tapi cukup banyak sampah berserakan, dan yang paling ga enak dilihat, sampah-sampah itu ditumpuk tepat di sebelah pintu masuk candi, yang membuat “sambutannya” jadi ga enak.

Begitu masuk kita akan ketemu pos jaga yang ada tulisannya “TAMU HARAP LAPOR”. Sengaja saya berhenti sebentar dan menatap sang penjaga, tapi beliaunya cuek-cuek aja karena sedang asyik menikmati musik koplo yang disetel cukup kencang (dan ini jujur aja mengganggu suasana sakral yang ada di area candi). Untung aja saya datang ga niat ngebom ya, secara saya berjenggot harusnya diperiksa ketat gitu (guyon wan .. jangan baperan yah).

Melangkah lebih dalam lagi, oke harus diapresiasi bahwa kondisi di dalam area candi cukup bersih. Tamannya lumayan terawat, meskipun belum bisa dikatakan “asri”. Dan kami pun menyaksikan bangunan kuno berbatu itu.

Candi Badut. Memang tidak semegah dan secetar membahana Borobudur, Prambanan, bahkan Panataran. Tapi apa pun ini adalah sisa-sisa peninggalan peradaban masa lalu nenek moyang kita. Jadi buat saya tetap saja ini bangunan yang sangat menarik.

Oh ya, memahami sejarah tentang bangunan purbakala itu adalah keharusan supaya bangunan purbakala menjadi menarik. Karena ada cerita di balik itu semua. Kalau kita tidak paham sama sekali cerita atau sejarahnya, maka kita hanya akan menilai bangunan bersejarah secara fisik saja. Dan kalau mereka tidak cukup “wow”, maka mereka tidak lebih dari sekedar reruntuhan batu-batuan saja.

Begitu kami menaiki punden berundak dan mengamati detail-detail candi, ada satu hal yang membuat hayati hancur. Yaitu vandalisme yang terjadi di hampir seluruh bagian candi, mulai dari dinding sampai ke lantai. Vandalisme itu berupa pahatan “nama-nama geje”, mulai dari : STM MALAWI, ARETA, GAMBLES, DUREN, RUSMANTO, dan banyak lagi yang ga bisa disebut satu-satu. Heran saya apa sih untungnya memahat nama-nama ga jelas gitu, emang kalo kebaca orang lain terus orang itu bakalan jungkir walik sambil nyanyi telolet gitu?

Baca Juga:  Sinergi Ditjen Pajak dan Ditjen Imigrasi, Langkah Maju yang Patut Disambut Baik

Saya tidak tahu apakah vandalisme yang terekam di situ sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu, atau sampai sekarang masih terjadi? Tapi kalau melihat betapa cueknya si penjaga candi, ya ga heranlah kalau Candi Badut ini, dan mungkin candi-candi lainnya, menjadi semacam tempat kursus memahat gaul gitu.

Sejenak saya duduk dan mengamati para pengunjung yang datang di sana dan saya mendapatkan kesimpulan yang sama. Wajah-wajah yang sumringah melihat bangunan purbakala itu berjalan cantik sambil memegang tongsis dan mulai menyeting kameranya. Sesudah itu mereka berpose cantik, atau berpose manyun-manyun gitu biar gampang di-like.

Tidak ada satu pun di antara mereka yang terlihat semangatnya mengeksplorasi, meneliti bagian-bagian candi, atau minimal mengapresiasi keindahan candi secara serius. Tidak ada satu pun.

Karena niatnya memang berselfi ria. Candi tidak lebih hanyalah obyek selfi belaka. Itulah kenapa namanya “selfi”, karena mereka memang sangat “selfish”. Termasuk para pemahat gaul yang karyanya bisa dinikmati di hampir seluruh badan candi, yang kayaknya memang harus dikutuk jadi arca, biar tau gimana rasanya badannya digores-gores gitu.

Semoga liputan pendek (eh, lumayan pendek kan tulisan saya?) kunjungan ke Candi Badut sore ini bisa dibaca oleh pejabat Pemerintah Kab Malang, pejabat Badan Kepurbakalaan, dan para pengajar pendidik yang mungkin bisa menggiatkan lagi semangat menghargai dan rasa memiliki bagi generasi muda terhadap peninggalan nenek moyang.

Kita selalu bermimpi menjadi bangsa besar dan berdaya saing di dunia internasional.

Tapi mana bisa begitu, jika rasa menghargai dan rasa memiliki terhadap apa yang kita punyai begitu rendahnya?

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ seniman dan budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.