NasionalOpini

BURUH BATIK DI HARI BATIK

Oleh: Heri Priyatmoko

BURUH BATIK DI HARI BATIK
(Foto: koleksi Heri Priyatmoko)

Negeri “cendol dawet” tengah merayakan Hari Batik Nasional. Saban kali perayaan yang gayeng itu, keberadaan buruh batik nyaris terlupakan. Mereka hidup dalam kesenyapan di tengah kemeriahan perayaan yang bermisi melestarikan warisan budaya Nuswantårå itu.

Sebaiknya, pakne unggah koleksi pribadi FOTO istimewa ini. Terlihat seorang mantan menteri Belanda bersama belahan hatinya dolan ke Laweyan, Sålå. Toewan kulit putih ini mengagumi batik mahakarya mbokmase serta mengapresiasi ketekunan para buruhnya.

Dalam perusahaan industri batik rumahan, buruh tersebut terbagi jadi beberapa jenis pekerjaan. Sebut saja: tukang cap, kuli babar, kuli celep, kuli beret, kuli kerok, pengubeng (pembatik), dan kuli kemplong. Potret kedekatan buruh terhadap juragan bak gigi dan gusi, sulit diceraikan. Hubungan sosial mereka laiknya abdi dalem dengan raja di lingkungan istana. Sejarah dunia perbatikan ing kuthå Sålå, misalnya, melukiskan ikatan batin antara buruh dan sang majikan dlm sebaris idiom lokal: “pejah gesang nderek mbokmase.”

Baca Juga:  Buni Yani Akan Dieksekusi Jumat

Memang, tak jarang kelompok buruh menjelma laksana prajurit keraton sewaktu pecah konflik yang melibatkan juragan mereka dengan perusahaan batik di lain tempat. Para tukang siap angkat pentungan dan berani tawuran demi membela kehormatan dan usaha milik majikan.

Demikianlah, potret kecil kesetiaan dan kiprah buruh batik. Dialah katup pengaman perusahaan batik yg jarang direken…

***

MEMBAWA RINDU DARI PULAU BURU
Penulis: Heri Priyatmoko ~ Solo Societeit
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close