OpiniPendidikan

Bung Amir Menyelamatkan Pemerintahan dari Kudeta Kelompok Tan Malaka

Oleh: Martin Luther

Amir Sjarifuddin: Pendiri TNI, Mati Didepan Regu Tembak TNI
Amir Sjarifuddin (Sumber foto: Koleksi Er. Siregar)

Hari ini, 73 Tahun Yang Lalu

Bung Amir Menyelamatkan Pemerintahan dari Kudeta Kelompok Tan Malaka.

“…Tanggal 3 Juli 1946. Sekitar jam 05:30 pagi kami mendengar suara tembak-menembak. Begitu mendengar suara tembak-menembak, kami keluar markas, mencari tahu di mana sumber suaranya. Sepertinya dari arah rumah Bung Amir. Rumahnya di Gondolayu, di sekitar stasiun Tugu. Tidak jauh dari markas kami di Jalan Malioboro. Saya khawatir, jangan-jangan Bung Amir bernasib seperti Sjahrir yang diculik beberapa hari sebelumnya. Saya ndak sempat pakai sepatu, langsung mengambil senjata dan ngajak anak-anak berlarian ke rumah Bung Amir.

Ternyata benar. Rumah Bung Amir sedang ditembaki sekelompok tentara yang berlindung di dalam parit di pinggir jalan. Pengawal-pengawal Bung Amir sampai kewalahan dibuatnya. Melihat kami datang dan menembaki kedudukan mereka, tentara yang menyerbu rumah Bung Amir ini mundur. Sesudah menguasai keadaan, kami masuk ke dalam rumah Bung Amir. Ternyata Bung Amir sudah dibawa lari sama penculiknya. Dua orang pengawal Bung Amir mati kena tembak.

Kami curiga, jangan-jangan Presiden Sukarno akan bernasib sama seperti Bung Amir. Tanpa berpikir panjang, kami bergerak ke istana. Di tengah jalan, anak-anak piket menyusul. Ngasih laporan, Bung Amir menelepon markas kami. Meminta saya membawa anak-anak ke istana secepatnya.

Ternyata Bung Amir membebaskan diri dari penculikan. Ceritanya, pagi itu penculiknya menyergap pengawal yang sedang berjaga di depan rumah. Begitu si pengawal lumpuh, penculik masuk ke kamar Bung Amir. Bung Amir sedang tidur. Masih pakai sarung dan kaus oblong dia. Ditodong lalu dipaksa naik truk, didudukkan di samping supirnya. Begitu mesin truk dihidupkan, pengawal Bung Amir yang ada di belakang rumah menembak. Tembakan ini bikin para penculik kaget. Mereka berloncatan ke dalam parit di pinggir jalan lalu tembak-menembak dengan pengawal Bung Amir. Karena terjadi tembak-menembak, supir truk panik. Dia melarikan truknya. Tidak sadar kalau bagian belakang truknya sudah kosong. Yang ada di dalam truk cuma si supir dan Bung Amir. Bung Amir tahu, si supir sedang panik. Bung Amir merampas pistol si supir. Si supir ditodong, dipaksa membawa truknya ke istana.

Baca Juga:  DEMOKRASI YANG TIDAK PUNYA ARTI

Waktu Bung Amir diculik, orang-orangnya Tan Malaka sudah mendatangi istana. Di situ ada Chaerul Saleh, Jenderal Mayor Soedarsono, Muhammad Yamin, Adam Malik dan Iwa Kusumasumantri cs. Mereka memaksa Presiden Sukarno membubarkan Kabinet Sjahrir dan menyerahkan pemerintahan kepada Tan Malaka. Sikap mereka seperti orang yang sudah menang perang. Presiden Sukarno berada dalam tekanan. Saat genting itu Bung Amir tiba di istana. Supir truk yang membawanya dia serahkan kepada pengawal istana. Bung Amir mengaku baru saja diculik. Pengawal-pengawal istana bertindak. Orang-orangnya Tan Malaka, yang berharap jadi menteri-menteri itu ditahan.

Saya masuk istana saat Bung Amir keluar dari ruangan kerja Presiden. Istana sudah ramai. Begitu melihat saya datang, Bung Amir merangkul saya. Saya ucapkan padanya:

“Selamat Bung. Selamat!”

Sebelumnya kami tidak menyangka, kok ada tentara yang berani menculik Menteri Pertahanan di ibukota? Sesudah melihat Jenderal Mayor Soedarsono ada di istana, kami curiga sama pasukan yang berkedudukan di ibukota. Soedarsono ini kan Panglima Divisi III yang membawahi wilayah Yogyakarta. Ternyata benar. Yang menculik Bung Amir itu batalyonnya Yusuf. Kedudukan batalyonnya di ibukota.

Baca Juga:  Jejak “GBHN” di Candi Penataran

Sesudah menempatkan anak-anak Pesindo di sekitar istana, saya menyuruh Letkol Pramudji memanggil Letkol Soeharto. Harto ini Komandan Resimen yang membawahi ibukota. Tidak berapa lama, Harto datang. Saya curiga Harto ini terlibat kudetanya Kelompok Tan Malaka. Saya mau tahu, apa benar dia terlibat. Waktu Harto menghadap saya, saya tanyakan padanya:

“Dik Harto terlibat, ndak?”

“Tidak, Mas.”

“Benar tidak terlibat? Lalu pasukanmu ada di mana?”

“Tidak, Mas. Saya tidak terlibat. Pasukan saya di markas semuanya.”

“Ya, sudah. Kalau begitu kamu bantu bikin pertahanan di sekitar istana.”

Soeharto lalu menelepon komandan-komandan batalyonnya supaya membantu pertahanan di sekitar istana.

Belakangan kami tahu ternyata Harto terlibat kudetanya Kelompok Tan Malaka. Calon-calon menterinya Tan Malaka yang terlibat kudeta itu, malam sebelumnya ngumpul di markas resimennya Harto. Mereka dikawal sama anak-buahnya Jusuf. Besok paginya mereka mendatangi istana. Harto ini licik. Dan tega mengorbankan komandan batalyonnya. Dia sengaja mengumpankan Jusuf untuk menculik Sjahrir dan Bung Amir. Harto berharap kalau kudeta ini nantinya berhasil, dia ikut komplotannya Tan Malaka. Kalau gagal, dia berbalik mendukung pemerintah.

Panglima Besar juga terlibat. Dia yang mendesak calon-calon menterinya Tan Malaka supaya dibebaskan dari penjara. Dia pula yang ngasih perintah supaya si Darsono membawa calon-calon menteri ini ke markas resimennya Harto. Waktu kawan-kawannya mendatangi istana, Panglima Besar dan pengawalnya memonitor dari alun-alun kraton. Tadinya dia berharap Bung Amir berhasil diculik. Presiden Sukarno bisa ditekan. Tapi gagal. Karena Bung Amir membebaskan diri dari penculiknya. Tahu kudeta ini gagal, Panglima Besar kembali ke markasnya. Dia biarkan kawan-kawannya ditahan sama anak buahnya Bung Ririhena. Waktu kasus 3 Juli disidangkan, Panglima Besar berkelit. Dia timpakan kesalahan sama Darsono dan calon-calon menterinya Tan Malaka.

Peristiwa 3 Juli 1946 kudeta pertama dalam sejarah RI. Bung Amir menyelamatkan pemerintahan dari kudeta Kelompok Tan Malaka.” (Kesaksian Soemarsono)

***

Sukarno Menyesal Atas Kematian Amir Sjarifuddin
Penulis: Martin Luther, Peneliti Sejarah
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close