Opini

BELAJAR DARI UAS

Oleh: Rudolfus Antonius, Pengajar STT Abdiel Ungaran

BELAJAR DARI UAS
Penulis: Rudolfus Antonius, Pengajar STT Abdiel Ungaran

Ceritanya begini. UAS menjawab pertanyaan seorang jamaah tentang hukum memandang salib. Mari kita asumsikan UAS menjawab sesuai dengan apa yang diyakininya. Patut dihargai. Aku percaya, maka aku berkata-kata.

UAS menjawab dengan gayanya yang khas: jenaka sekaligus sinis. Atau, sinis sekaligus jenaka. Segar bagi penggemar, tapi garing bahkan menyebalkan bagi yang bukan penggemarnya. Lebih-lebih soal hubungan antara patung salib dan jin kafir, juga penggantian “salib” (palang) merah dengan “bulan sabit” merah. Penggemar bersuka, bukan penggemar, lebih-lebih sementara orang Kristen, merasa simbol sucinya, bahkan Tuhannya, dinistakan.

Seperti Spartakus seabad sebelumnya (71 SZB), Gusti Yesus mati disalibkan: dieksekusi sebagai musuh besar negara Romawi. Lewat sebuah konspirasi memuakkan yang melibatkan para pemangku kekuasaan ekonomi politik dan agama yg merasa terancam oleh kiprah-Nya, Gusti Yesus menemui ajalnya.

Dalam mata iman, para pengikut Gusti Yesus melihat banyak makna dalam kematian yang mengenaskan itu. Di antaranya:

(1) Jalan Sang Mesias untuk memasuki kemuliaan;

(2) kemartiran Orang Benar;

(3) kemenangan paradoksikal Gusti Yesus atas Kuasa-kuasa yang menghisap, menindas, dan meminggirkan “saudara-Ku yang paling hina”;

Baca Juga:  Pramoedya & Nobel, dan Sastra Eksil Pasca 1965

(4) pendamaian atas dosa-dosa umat manusia, yang memungkinkan rekonsiliasi manusia dengan Gusti Allah dan manusia dengan sesamanya, dsb.

“Mata iman” itu dimungkinkan karena Pengalaman Paska sekian banyak pengikut awal: mereka berjumpa dengan Gusti Yesus sebagai Yang Hidup setelah kematiannya. Pengalaman itu meyakinkan mereka bahwa kematian yang diakibatkan oleh konspirasi jahat itu tidak sanggup menamatkan riwayat, ajaran, dan kiprahnya. “Allah telah membuat Yesus yang kamu salibkan itu menjadi Yang Dipertuan dan Kristus.”

Saya seorang pengikut Gusti Yesus. Di satu sisi, bagi saya, kematian Gusti Yesus merupakan skandal kekuasaan, yang berdimensi ekonomi, politik, dan agama. Di sisi lain, karena Peristiwa Paska, bagi saya kematian itu merupakan sebuah pewartaan bahwa kekuasaan yang paling korup dan kekerasan yang “terstruktur, sistematis, dan masif”, tidak dapat menghentikan Kabar Baik (Injil) yang Membebaskan kaum terhisap, tertindas, dan terpinggirkan.

Berkenaan dengan UAS, saya merasa tidak perlu marah apalagi sakit hati karena simbol suci bahkan Junjungan saya dinistakan. Paling jauh saya memandang UAS sebagai orang yang belum sampai pada “mata iman” pengikut Gusti Yesus atau sekurang-kurangnya penghargaan terhadap “plausibility structure,” yang memungkinkan sebuah “rukun iman” masuk akal bagi suatu umat. Saya juga tidak akan membahas “dengan jenaka dan sinis” sesuatu yang terhisab dalam “plausibility structure” umat beragama lain. Saya malah ingin lebih konsekuen dan konsisten menghayati Salib, simbol suci kami itu, sebagai sebuah kecaman terhadap kekuasaan yang korup (dan munafik) dan kekerasan yang TSM, sekaligus sumber inspirasi yang tidak ada habisnya bagi perjuangan pembebasan dari penghisapan, penindasan, dan peminggiran terhadap kaum miskin (dan alam yang makin samsara).

Baca Juga:  Mengenal Koteka “Si Lambang Kesetiaan”

Btw, sekadar otokritik bagi umat Kristen (yang di dalamnya saya terhisab): bukankah ada juga di antara kita yang suka “dengan jenaka dan sinis” membahas keyakinan sedulur2 beragama lain?

Dari UAS kita bisa belajar: Bahkan di dalam pertemuan internal kita sendiri pun, kita perlu belajar (1) jujur mengungkapkan apa yang kita yakini; sekaligus (2) mengapresiasi “plausibility structure” umat beragama lain; dan (3) menjauhkan diri dari ramuan “jenaka dan sinis” ketika membahas “rukun iman” agama lain – betapapun aneh atau ganjilnya itu bagi kita.

Semoga!

Lemah Abang, 180819

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close