Opini

Atas Nama Selera Pasar

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

Nyesek juga ngeliat ceramah seorang ustadzah di TV yang secara pede ngomong “kalo Muslim jangan jadi dokter hewan”, hanya gara-gara ada seorang peserta yang bertanya bagaimana hukumnya mengobati anjing. Si ustadzah ini jelas tidak berpikir tentang pentingnya ilmu pengetahuan, bagaimana para ilmuwan bersusah-payah menguak rahasia alam semesta di balik penciptaan fauna. Yang ada di benaknya cuma dogma “ini halal itu haram, ini berpahala itu dosa”, yang sayangnya jika dogma ini diatasnamakan “Islam”, tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang mengajarkan sikap “anti-anjing”.

Beberapa tahun yang lalu, si ustadzah yang sama ini juga lagi-lagi bikin nyesek dada, ketika ia menanggapi seorang mbak-mbak cantik yang mengakui dosanya. Bukannya mengapresiasi kejujuran si mbak dan merangkulnya, eh si ustadzah ini malah melaknat wanita tersebut dengan sebutan “wanita pendosa”. Dalam hal ini agak kontras juga ketika saya bandingkan dengan kasus yang sama pada acara agama lain di TV, ketika seorang pendeta meyakinkan kepada seorang penanya bahwa Tuhan akan mengampuninya dan mengasihinya jika ia bertobat.

Masih segar juga beberapa minggu lalu, ada seorang ustadz yang mengeluarkan kata-kata vulgar ketika sedang berceramah di TV dengan mengatakan bahwa “salah satu nikmat yang ada di surga adalah pesta seks”. Apa pun penafsirannya, kalimat semacam ini sangat tidak pantas untuk diucapkan secara terang-terangan di layar kaca.

Dan masih banyak lagi sebenarnya contoh ceramah para ustadz dan ustadzah di layar TV yang menurut saya malah sangat memalukan dan mencoreng nama baik Islam itu sendiri. Menonton acara mereka malah tidak dapat manfaat, tapi mudharat. Kenapa? Karena ati ini mendadak panas, dan akhirnya mulut ga bisa berhenti ngomel menanggapi ceramah-ceramah tidak mendidik semacam itu.

Baca Juga:  Perang Dingin Berakhir: Akhir Polarisasi antara Barat kontra Timur

Satu hal lagi, ustadz dan ustadzah semacam itu jarang sekali saya lihat menggunakan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan. Sebaliknya, mereka menggunakan dalil-dalil di luar Alquran yang aneh-aneh, tidak masuk akal, dan membuat hidup jadi ribet.

Pertanyaannya : “kenapa bisa penceramah semacam itu beredar di TV yang ditonton oleh jutaan pemirsa?”

Saya jadi bertanya-tanya, apakah para produser acara di TV tidak cukup pintar untuk menyeleksi para penceramah itu? Secara logika seharusnya seorang produser TV, atau bahkan para pemilik stasiun TV pastinya adalah orang-orang berpendidikan tinggi. Apakah mereka tidak bisa menilai mana pesan-pesan yang bermanfaat bagi masyarakat, dan mana yang tidak bermanfaat, membodohi, dan bahkan berbahaya untuk dikonsumsi masyarakat?

Obrolan saya dengan seorang kawan yang bekerja di salah satu stasiun TV nasional sekitar setahun yang lalu barangkali sedikit menjawab pertanyaan di atas. Saya menyampaikan keluhan kurang lebih seperti ini, “Mas, untuk acara dakwah apa ga bisa toh menghadirkan penceramah yang berkualitas, yang kritis dan bisa memberi pencerahan kepada masyarakat? Masak dari dulu gitu-gitu aja penceramahnya, ga tambah cerdas masyarakat malah tambah jumud (berpikiran sempit)”.

Anda tahu apa jawabannya?

“Selera pasar kita yang paling besar ya masih yang begituan mas”.

Selera pasar!

Atas nama pasar, maka tayangan religi di negeri ini harus tetap didominasi para penceramah semacam itu. Teman saya itu menambahkan, bahwa produser harus berpikir dua kali untuk menghadirkan seorang penceramah yang “gak mainstream”, karena cukup berisiko. Bisa-bisa stasiun TV-nya digugat, atau malah berurusan langsung dengan “fatwa”.

Baca Juga:  Analogi Gula dan NKRI

Berarti dengan penuh kesadaran, teman saya itu berpendapat bahwa ceramah yang tidak mencerdaskan itu demi menuruti selera pasar, yang itu artinya ia meyakini bahwa mayoritas masyarakat kita belum cerdas. Dalam hal ini akhirnya saya juga bertanya lagi ke dia : “sebenarnya sampean menampilkan penceramah tidak cerdas untuk menuruti selera masyarakat yang belum cerdas, ataukah sebaliknya, masyarakat gak cerdas-cerdas karena sampean selalu menampilkan para penceramah yang tidak cerdas?”

Inilah jahatnya kapitalisme. Dalam prinsis kapitalisme, segala sesuatu yang bisa menghasilkan uang banyak akan dipelihara. Dan dalam hal ini, kebodohan memang sengaja dipelihara, karena kebodohan tsb yang selama ini bisa menghasilkan pundi-pundi uang untuk menebalkan kantong-kantong para kapitalis tsb.

Inilah tantangan bagi kita yang hidup di zaman kejayaan kapitalisme dan kemajuan teknologi informasi. Kita harus ekstra hati-hati dalam menerima segala informasi yang diterima. Kita harus betul-betul memaksimalkan anugerah terbesar yang sudah Tuhan berikan kepada kita, yaitu “akal”. Pilhannya adalah “mencari pencerahan”, atau tetap “berkubang di dalam kebodohan”.

Tentu saja kita akan memilih “pencerahan”, dan untuk itu yang harus dilakukan tidak bisa tidak adalah banyak membaca, belajar, membuka wawasan, menjaga nalar, dan menggunakan akal dengan sebijaksana mungkin.

QS 96 Al Alaq (Segumpal Darah)

3. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah.

4. Yang mengajar dengan perantaraan pena.

5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

QS 17 Al Isra’ (Perjalanan Malam)

36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

QS 10 Yunus

100. … dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ Seniman dan Budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.
Tags

Leave a Reply

Check Also

Close
Close