Opini

Anwar Nasution Sarankan Jokowi Ganti Menteri: Ganti Menteri, Menyelamatkan Negeri?

Penulis: Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

JAKARTA, MJNews – Lama tak muncul di publik, Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Anwar Nasution tiba-tiba bersuara nyaring. Bikin panas kuping.

Tidak tanggung-tanggung, mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini, menyarankan Presiden Jokowi mengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri BUMN Rini Soemarno. Alasannya, keduanya tidak berkinerja bagus.

Saran pedas Anwar ini terbilang tidak biasa, bahkan langka. Pasalnya, jika yang melayangkan kritik adalah para ekonom yang selama ini mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah, tentu bisa dipahami.

Tapi, kali ini datang dari seorang Anwar, yang dalam rekam jejaknya nyaris tidak pernah berseberangan dengan pemerintah. Satu hal lagi, Anwar adalah senior (dan mentor?) Sri Mulyani, khususnya di Universitas Indonesia (UI), almamater mereka.

Menteri-menteri yang tidak kompeten ya menteri-menteri ekonomi itu. Apa yang mereka lakukan? Rini Soemarno, ada gak BUMN yang ekspor? Gak ada! Sri Mulyani tax ratio tadi 10%, apa yang dilakukan? Gak ada. Kalau saya (Presiden) saya pecat (mereka), ujarnya kepada awak media di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/9/2018).

Sehubungan dengan itu, Anwar menyarankan agar Jokowi mengganti sejumlah menteri yang gagal. Langkah ini harus Presiden lakukan untuk membenahi perekonomian yang kian mengkhawatirkan.

Dengan begitu, bakal lahir kemungkinan Jokowi terpilih lagi dalam pemilu 2019. Sebaliknya, lanjut dia, kalau dibiarkan terus seperti sekarang, dikhawatirkan bakal terjadi krisis. Jelaslah, reputasi Jokowi bakal hancur.

Alarm gawatnya perekonomian sebenarnya sudah meraung-raung sejak tiga tahun terkahir. Lihat saja, era Presiden Jokowi perekonomian nasional berkutat di angka 5%.

Baca Juga:  Siaran Pers: Apresiasi Percepatan Restitusi, Namun Perlindungan Hukum Juga Penting

Padahal, sebelumnya, pernah melejit hingga di atas 6%. Di lapangan, rakyat merasakan beban hidup kian berat. Harga-harga terus melambung, menambah berat daya beli rakyat. Celakanya lagi, lapangan kerja sangat terbatas. Bagi pengusaha, jebloknya daya beli berdampak kepada merosotnya transaksi penjualan.

Rontoknya rupiah hingga sempet menclok di level Rp15.100/US$, bisa menjadi pertanda gawat bagi dunia usaha. Khususnya mereka yang punya utang dan sebagian (besar) berbentuk dolar AS. ‘Lunglainya rupiah tentu saja berakibat amat buruk. Akibat selisih kurs, utang tiba-tiba melambung.

Sinyal memburuknya ekonomi sebetulnya sudah disampaikan ekonom senior, Rizal Ramli sejak jauh-jauh hari. Di mana, RR begitu dia biasa disapa, mengingatkan pemerintah, bahwa ekonomi Indonesia sudah memasuki lampu kuning.

Jika ekonomi terus dikelola dengan gaya neolib ala Bank Dunia, bukan mustahil masuk lampu merah. Indikator risiko makro ekonomi kita memburuk sebenarnya sudah tampak sejak dua tahun terakhir. Ini antara lain disebabkan impor yang ugal-ugalan. Akibatnya defisit transaksi berjalan atau Current Account Defisit (CAD) makin tinggi dan rupiah terus melemah, ujar pria yang sejak lama bersuara nyaring menentang ekonomi mazhab neolib.

Mencermati data makro-ekonomi resmi pemerintah, angka-angkanya memang mengerikan. Neraca perdagangan kuartal II-2018, tercatat defisit US$1,02 miliar. Defisit transaksi berjalan di kuartal I-2018, tercatat US$5,5 miliar. Pada periode sama, neraca pembayaran/balance of payment (BOP) defisit US$3,9 miliar dan keseimbangan primer (primary balance) dalam proyeksi APBN 2018 defisit US$6,2 miliar. Kondisi inilah yang membuat rupiah terus merosot dan terjadi capital outflow.

Baca Juga:  AKU CINTA "BAHASA INDONESIA"!!!

RR yang pernah menjadi anggota Tim Panel Ahli Ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), bersama dua pemenang nobel ekonomi ini, tidak menampik adanya faktor eksternal yang ikut memantik rupiah rontok.

Namun, ibarat tubuh, lanjut dia, jika stamina bagus, walau virus flu bertaburan “Insha Allah tidak akan tertular. Sebaliknya, kalau tubuh tidak sehat, orang di sebelah bersin saja, bisa langsung jadi sakit.”

Sayangnya, para menteri ekonomi lebih suka menyalahkan faktor eksternal. Kerjanya sibuk berkelit sambil memberi penjelasan yang tidak utuh, bahkan cenderung menyesatkan.

Laporan-laporan asal bapak senang (ABS) membuat presiden menjadi tidak memahami persoalan secara utuh dan benar. Akibatnya, pemerintah terkesan lelet dan tidak cerdas dalam mengambil keputusan.

Dengan kondisi babak-belur seperti ini, saya kok jadi ragu. Kalau pun Jokowi mengikuti saran Anwar Nasution mengganti Sri dan Rini juga beberapa menteri ekonomi lainnya, benarkah akan terpilih kembali?

Pada akhirnya, suara rakyat yang dihitung untuk menentukan kalah-menangnya seorang kandidat. Nah, saat ini, rakyat merasa beban hidup kian tak tertanggungkan. Ditambah utang janji-janji kampanye Pilpres sebelumnya yang teramat banyak belum ditepati.

Kecuali, jika daya tahan menderita rakyat Indonesia memang sudah luar biasa. Dan, satu lagi, kecuali bila rakyat Indonesia gampang lupa. Ini kecuali, lho ya.

 

 

Tags

Leave a Reply

Close