OpiniPendidikan

Antara Pahlawan dan Pengkhianat

Politik Itu Nyanduin (22)

Antara Pahlawan dan Pengkhianat
(Photo: Noel Lounela)

Oleh: Saleh Abdullah

Rupanya betul, batas antara pahlawan dan pengkhianat itu bisa sangat tipis sekali. Setipis beda antara cebong dan kampret, akhir-akhir ini.

Aktifis Hak Asasi Manusia paling awal negeri ini, Poncke Princen, buat sebagian orang, mungkin contoh “paling nyata” dari betapa blurnya batas kepahlawanan dan pengkhianatan. Menjadi desertir dari KNIL, lalu bergabung dengan pasukan khusus Kala Hitam Siliwangi, ia menjadi otak penyerbuan dan pembantaian tentara-tentara KNIL.

Di negeri asalnya Belanda, Poncke dianggap pengkhianat dan diancam ditembak mati. Di Indonesia, ia merupakan 1 dari sedikit prajurit Siliwangi pertama yang dianugrahi Bintang Gerilya oleh presiden Sukarno.

Tapi lalu, karena sangat vokal membela hak asasi mereka yang dinistakan (PKI, Aktifis Islam, Aceh, Papua, Timor Leste) di masa sulit Orde Baru, bahkan oleh Ketua Komnas HAM ketika itu, Poncke dianggap “sekali pengkhianat, tetap pengkhianat.” Pemikiran ketua Komnas HAM pararel dengan para eks serdadu KNIL dari eks penjajah.

Baca Juga:  Penyatuan Negeri-negeri Kecil

Pengkhianatkah Poncke? Atau pahlawan? Kejernihan nurani dan otak warasmu yang akan menentukan.

Mereka yang sinis dengan kadar ngebet luar biasa, meledek para aktifis sebagai SJW. Lalu serangan balik dilancarkan: “ah, lu Front Pembela Istana!”

Lalu kini, Prabowo yang pernah dianggap bertanggungjawab pada sejumlah pelanggaran HAM paling serius, merapat atau dibetot ke Jokowi. Prabowo yang ketika Pilpres kemarin dikuliti habis-habisan, dari pribadi sampai keluarganya, manuvernya kini membuat melongo dan tak berfungsinya kewarasan pikiran para cebong dan kampret.

Sambil tetap mendukung keputusan jagoannya, akan minta maafkah para pengejek dan penista Prabowo dulu? Sekali lagi, kewarasanlah yang akan menentukan.

Apakah para pendukung akan mengritik Jokowi atau Prabowo? Di sinilah ujian kadar Kewarasan sesungguhnya. Akan kembali waraskah mereka, atau akan jadi seperti tape yang jatuh ke lantai? Plek, tidak membal. (Saya berusaha keras untuk tidak menggunakan istilah RG: “Dungu kok dipelihara.”)

Baca Juga:  SO(K)LUSI

Atau apakah kalian akan tetap tenggelam dalam absurditas Sisyphus?

Keterangan foto di bawah: Anak-anak saya, dan satu keponakan mendaki gunung di hari jelang pelantikan kemarin, dipimpin Saar (kanan) yang gendang telinganya dirusak aparat karena ikut demo.

Semoga alam ikut membantu penyembuhan telinga Saar. Semoga alam tetap bisa membantu mereka untuk berfikir. Jernih dan menjaga kewarasan mereka.

Kabut bisa membuat pandangan kabur tidak jelas, tetapi tetap mengandung keindahan. Politik?

Panjang umur Kewarasan!

***

Saleh Abdullah
Penlukis: Saleh Abdullah

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close