Opini

Antara Kafir dan non-Muslim

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

“Jangan bilang “Kafir”, bilang saja “non-Muslim”.”

Gara-gara komen seperti itu, saya jadi dibully oleh beberapa orang pada sebuah TS seorang kawan di FB.

Rupanya mereka itu belum tahu bahwa para ulama sendiri berbeda pendapat tentang penafsiran kata “kafir” yang ada di Alquran.

Memang ada yang berpendapat bahwa “kafir” itu adalah siapa pun yang ‘tidak beragama Islam’. Titik. Tidak ada kompromi. Mereka akan masuk neraka. Dan golongan yang berpendapat seperti ini cukup banyak.

Tapi ada juga para ulama yang berpendapat bahwa “kufur” itu adalah perilaku, dan orang kufur disebut “kafir”. Siapa saja bisa menjadi kafir jika ia berperilaku kufur, meskipun dia mengaku beragama Islam. Dalam hal ini mereka berpendapat bahwa menjadi seorang non-Muslim itu tidak lantas otomatis jadi kafir. Itu semua tergantung pada perilakunya, apakah ia beriman dan berbuat baik atau tidak (baca QS 2:62 dan QS 5:69). Kalau ia beriman dan berbuat baik, jelas bukan kafir. Dan sebaliknya.

Lalu saya ikut pendapat siapa? Ya tentu saja saya ikut pendapat yang kedua. Beberapa ulama tersohor yang berpendapat seperti itu adalah Gus Dur, Cak Nun, dan Cak Nurhadi.

Sayangnya justru karena mereka itu ulama lokal yang ‘hanya’ bergelar “gus” atau “cak”, seringkali pendapat mereka tidak dihiraukan. Banyak orang Indonesia yang lebih suka mendengarkan pendapat ulama nun jauh di sana yang hidup di tengah padang pasir, “sheikh anu” yang namanya begitu asing di telinga tapi mereka cukup menerimanya hanya dengan membaca di internet. Lalu pendapat “si sheikh anu” tsb dijadikan rujukan oleh kelompok-kelompok garis keras di Indonesia.

Baca Juga:  "DAENDELS BARU"......!??

Saya sendiri setelah beberapa tahun belajar Alquran secara mendalam, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa “iman dan kafir itu ibarat dua sisi kehidupan seorang manusia”.

Boleh jadi hari ini kita beriman, tapi besok kita berlaku kufur. Pernahkah anda mendapatkan rezeki tapi lupa menyantuni fakir miskin? Maaf, menurut standar Alquran anda sedang berada dalam keadaan “kufur nikmat” (QS 3:186), biarpun anda tidak pernah bolong ritual shalat 5 waktu.

Maka terus terang saja, saat ini saya sangat tidak berani mengklaim diri saya ini “Muslim”. Karena saya sadar betul bahwa saya masih sering “kufur”. Apalagi menuduh orang lain “kafir” hanya karena mereka ‘tidak seagama’ dengan saya. Padahal sebab mereka tidak seagama dengan saya itu kompleks. Bisa jadi bawaan lahir atau kejadian-kejadian khusus dalam perjalanan hidup mereka yang akhirnya membentuk keimanan mereka.

Betapa piciknya jika saya dengan mudahnya menuduh mereka “kafir” hanya gara-gara soal beda agama.

“Loh, kenapa harus marah disebut kafir? Kafir itu bukan hinaan. Sama seperti umat Kristiani yang punya istilah “domba yang tersesat”.”

Ya masalahnya kata “kafir” ini sudah jadi ‘trade mark’ yang buruk. Dan mayoritas non-Muslim terganggu dengan istilah semacam itu.

Coba anda jujur, pernahkah anda menggandeng kata kafir dengan kalimat kebaikan?

Baca Juga:  GUS DUR: Kesaksian Bondan Gunawan

“Hormati dan sayangilah kaum kafir seperti saudara kita sendiri”.

“Mari kita doakan saudara-saudara kafir kita agar mereka diberi keselamatan dan keberkahan oleh Allah swt.”

Aneh ya? Ga pernah denger kan kalimat macam itu? Ya kerena kalimat-kalimat semacam ini lebih lazim :

“Dasar kafir!!!”

“Semoga Allah melaknat kaum kafir!!!”

“Jangan sampai negeri ini dipimpin orang kafir!!!”

Ya itulah kenyataannya. Kata “kafir” hampir selalu mencerminkan ungkapan kebencian.

Jadi, seberapa manis pun anda mengemas kata “kafir” seolah-olah itu bukan hinaan atau kebencian, dengan melihat kenyataan yang ada maka itu jadi basi banget.

Jadi harus bagaimana ini? Apa penafsiran “kafir” harus diseragamkan menurut pandangan Ki Lurah?

Tentu saja tidak. Tapi mengingat kita hidup di Bumi Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, maka saya usulkan pemakaian istilah yang lebih adil, yaitu “non-Muslim”.

Silakan anda beranggapan bahwa di luar Islam itu kafir, tapi gunakan istilah tsb hanya dalam komunitas yang sepaham dengan anda.

Tapi begitu anda melangkah masuk ke ruang publik yang lebih plural, maka tinggalkan istilah “kafir” tsb, dan gunakan istilah “non-Muslim”.

Penggunaan istilah “non-Muslim” tidak akan menciderai keimanan atau perasaan siapa pun.

Itu lebih adil dan bisa diterima semua pihak.

Dan begitu sikap adil ditegakkan, maka kita akan memanusiakan orang lain, siapa pun dia dan apa pun agamanya.

Itulah hakikat sila “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.

***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ seniman dan budayawan, – Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

 

 

Tags

Leave a Reply

Close