Opini

ANALOGI GULA & NKRI

Oleh: Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar

Ada sebuah analogi menarik yang dikemukakan oleh Agus Salim Harimurti Kodri – seorang pejuang kebangsaan, dalam diskusi kami beberapa tahun lalu di Jakarta. Untuk menjelaskan betapa NKRI ini sebenarnya sudah “mati”, beliau menggunakan analogi gula (glukosa).

“Gula” (dalam hal ini gula dari kelompok monosakarida) memiliki tiga unsur pembentuk, yaitu : Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O).

Tiga unsur tersebut membentuk senyawa yang bernama “Glukosa” dengan rumus molekul C6H1206.

Senyawa Glukosa ini memiliki bentuk padat dengan sifat manis. Dan demikianlah tentang Gula alias Glukosa.

Lalu bagaimana jika unsur pembentuk gula dikurangi atau ditambah?

Seperti telah disebutkan di atas, gula memiliki tiga unsur pembentuk, yaitu : Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O). Maka jika salah satu saja unsur itu dihilangkan, entah itu C, H, atau O-nya saja maka dipastikan itu BUKAN LAGI GULA.

Begitu pun jika ditambahkan lagi satu unsur ke dalam gula, misalkan saja natrium (Na), maka bisa dipastikan bahwa itu BUKAN LAGI GULA.

Karena unsurnya telah berubah, maka senyawanya pun berubah sehingga namanya BUKAN LAGI GLUKOSA.

Dan karena senyawanya berbeda, maka BENTUKNYA PUN BERUBAH, sehingga SIFATNYA PUN BERUBAH tidak lagi manis. Karena tidak manis, maka ia TIDAK BISA DISEBUT SEBAGAI GULA.

Lalu apa hubungan antara pelajaran kimia di atas dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?

Sama dengan gula, NKRI pun berdiri dengan unsur-unsur pembentuknya. Jika ingin mengetahui apa saja unsur pembentuk NKRI, maka kita harus kembali kepada hari bersejarah di mana bangsa Indonesia MENETAPKAN DASAR KEMERDEKAANNYA.

Ada pun unsur pembentuk NKRI sebagaimana dirangkum dari berbagai nama yang diajukan oleh Para Pendiri Bangsa adalah :

(1) Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

(3) Persatuan Indonesia.

(4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.

(5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kelima unsur pembentuk NKRI itu menghasilkan sebuah senyawa yang disebut PANCA SILA.

Dari ‘senyawa’ Panca Sila itulah maka bangunan Indonesia Merdeka didirikan dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sudah barang tentu ketika Panca Sila adalah dasarnya Indonesia Merdeka, maka diharapkan bahwa Panca Sila akan menjadi sifatnya bangsa itu sendiri.

Sebagaimana analogi gula di atas, maka jika salah satu saja dari unsur pembentuk NKRI dihilangkan, maka bisa dipastikan negara ini BUKAN LAGI NKRI. Atau jika ada satu unsur lagi yang ditambahkan, maka jelas negara ini BUKAN LAGI NKRI.

Jika salah satu unsur dihilangkan atau ditambahkan, maka senyawanya tidak lagi bisa disebut sebagai Panca Sila, sehingga dasar Indonesia Merdeka pun menjadi nihil. Maka negara ini BUKAN LAGI NKRI.

Ketika senyawanya berubah, maka BENTUKNYA PUN BERUBAH. Ketika Panca Sila sebagai Dasar Indonesia Merdeka diubah, maka negeri ini BUKAN LAGI NKRI.

Sehingga ketika bentuk negeri ini berubah, maka SIFAT BANGSA INI PUN BERUBAH.

Pertanyaannya : benarkah unsur pembentuk NKRI ini telah diubah?

Jawabannya : YA. Pada peristiwa Amandemen UUD’45 sepanjang 1999-2002..

Amandemen UUD’45 yang telah menghilangkan fungsi MPR sebagai lembaga musyawarah bangsa dan lembaga tertinggi negara, meniadakan GBHN, dan memberlakukan Demokrasi Liberal Pilihan Langsung dengan keterlibatan Multi Partai adalah merupakan PENYIMPANGAN terhadap salah satu unsur Panca Sila yaitu sila-4.

Dibunuhnya sila-4 sebagai salah satu unsur pembentuk NKRI telah memporak-porandakan sila-sila lainnya. Hari ini di negeri ini kita begitu sulit untuk berbicara soal kemanusiaan, persatuan, keadilan, kesejahteraan, dan bahkan soal berketuhanan pun menjadi begitu membingungkan.

SIFAT BANGSA ini pun BERUBAH!

Jika Panca Sila sebagai Dasar Indonesia Merdeka seharusnya menjadi sifatnya bangsa Indonesia, maka apakah benar Panca Sila tercermin dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia? Rasanya jauh panggang daripada api.

Bukankah seringkali dijumpai sifat orang yang tadinya begitu jujur dan bersahaja tiba-tiba berubah begitu mereka terjun ke dunia politik?

Tidakkah kita menyadari pula bahwa banyak karib kerabat kita yang tiba-tiba sifatnya berubah begitu menjadi seorang jurkam dadakan, dan kini tampil begitu gagahnya dengan caci-maki dan fitnah hanya demi mendukung politisi idolanya, seraya mengabaikan hubungan persaudaraan yang telah dijalin sejak lama?

Karena unsurnya dirubah, maka senyawanya berubah, bentuknya berubah, dan SIFAT BANGSA INI PUN BERUBAH!

Maaf kawan, ternyata kita saat ini tidak lagi hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 ***

Wima Brahmantya ketua dewam kesenian kabupaten blitar
Penulis: Wima Brahmantya ~ seniman dan budayawan, Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.
Baca Juga:  MENYELAMI PANCASILA SEBAGAI DASAR INDONESIA MERDEKA
Tags

Leave a Reply

Close