PendidikanSoekarno

Aidit Periode Akhir 1948 – 1949

Oleh: Andreas Joko Waskito

Aidit Periode Akhir 1948 - 1949
D.N. Aidit muda, 1951. [koleksi Ilham Aidit]
Ketua Gemar Makan Dengan Kecap

Di tengah-tengah situasi kisruh Peristiwa Madiun, rupanya Suhadi, Aidit, dan Ruslan Widjajasastra tertangkap aparat, di Baki, Sukoharjo. Ketiganya kemudian dijebloskan di sebuah tahanan darurat di Timuran, Solo.

Seperti diketahui Aidit, Suhadi, dan Ruslan Widjajasastra, tidak masuk dalam rombongan Muso yang tengah melakukan kunjungan ke beberapa daerah untuk sosialisasi Resolusi Jalan Baru. Tapi ketiganya masuk dalam Tim Tiga, menjadi semacam petugas central partai. Tugasnya, antara lain mengkoordinasi semua kegiatan FDR/PKI di Karesidenan Surakarta, yang bersifat nasional. Jadi statusnya semacam perwakilan CC yang diperbantukan di Surakarta.

 

Lantas bagaimana ketiganya bisa tertangkap aparat?

Ceritanya baru belakangan diketahui. Mereka tertangkap di daerah Baki, di pinggiran selatan Kota Solo. Beruntung, identitasnya tidak diketahui. Ketiganya lantas dibawa ke kantor kecamatan setempat untuk diperiksa. Gawatnya, ternyata Camat Baki tahu identitas ketiga orang ini. Tapi entah kenapa, ia hanya diam saja, dan malah berusaha menutupi. Dikatakan bahwa ketiga orang ini hanya pedagang biasa. Sehingga pemeriksaan oleh aparat tidak dilanjutkan.

 

Mengapa Camat Baki merahasiakan identitas mereka? Ini juga ada ceritanya.

Dalam suatu peristiwa yang terjadi jauh sebelumnya, Camat Baki pernah ditangkap oleh orang-orang Pesindo. Tidak jelas apa masalahnya. Tapi yang pasti camat itu merasa dirinya telah diselamatkan oleh salah seorang dari ketiga orang ini. Mungkin karena merasa berhutang budi, camat itu berusaha menyelamatkan nyawa ketiganya. Padahal jika diketahui, tentu ceritanya akan menjadi lain.

Mengetahui Suhadi, D.N. Aidit, Ruslan Widjajasastra, serta Baiman ditahan di rumah tahanan darurat di Timuran, Solo; usaha penyelamatan pun dilakukan. Sekitar November 1948, Aidit, Ruslan, dan Baiman berhasil meloloskan diri lewat gorong-gorong. Sementara Suhadi memilih tetap berada di dalam tahanan. Menurutnya, keamanan dirinya lebih “terjamin” di dalam penjara daripada di luar. Ini mengingat ia dikenal luas oleh masyarakat Solo.

Baca Juga:  Asal Tuduh

Setelah berhasil meloloskan diri, ketiganya lantas disembunyikan dengan cara berpindah-pindah tempat, dari satu rumah ke rumah yang lain. Dan masing-masing disembunyikan secara terpisah. Salah satunya di rumah milik seorang keturunan Tionghoa, yang rumahnya terletak persis di sudut perempatan Warung Pelem. Semua ini dilakukan oleh jaringan yang pernah dibentuk untuk membebaskan Amir Sjarifuddin dkk.

Beda dengan Bung Aidit, ia bisa lebih leluasa bergerak, karena tidak begitu dikenal oleh masyarakat Solo. Meski begitu, demi keamanan, identitas Bung Aidit tetap saja disamarkan. Bung Aidit menyamar sebagai pembantu tukang jahit di Tailor Oryza, milik orang padang, yang membuka usahanya di perempatan Nonongan. Sementara tempat persembunyiannya di sekitar Kalilarangan, tak jauh dari Nonongan.

Selama bersembunyi di Solo, segala keperluan hidup dan keselamatan Bung Aidit sepenuhnya menjadi tanggung jawab SC Surakarta. Dari sinilah hubungan pribadi Siswoyo dengan Bung Aidit menjadi sangat dekat. Sampai ia mengenal betul bagaimana perangai dan wataknya, hingga kebiasaan atau selera makannya. Misalnya, Aidit gemar sekali makan dengan kecap. Apalagi bila makan kupat tahu dengan kecap manis khas Solo, ia pasti tanduk (nambah).

Aidit berasal dari Belitung. Selain cerdas, ia juga seorang agitator. Tapi dalam beberapa hal, kadang ia sektaris. Wataknya juga keras, kaku, dan cenderung kasar. Pernah beberapa kali Aidit berdebat sengit dengan Siswoyo. Bahkan sampai menumpahkan kemarahannya. Meskipun setelah marah-marah, ia selalu meminta maaf.

Pernah suatu ketika terjadi ketegangan cukup serius. Masalahnya sangat sepele. Aidit menilai Siswoyo kurang cermat menyelesaikan pekerjaan. Ia lalu marah-marah disertai emosi berlebihan. Siswoyo pun tidak mau terima. Ketegangan pun terjadi. Kalau sudah begini, hanya Pak Suhadi yang dapat melerai.

Baca Juga:  Tulisan Kecil Tag Belamra

Meski begitu, “Saya tahu betul, Bung Aidit sesungguhnya sayang pada saya. Karena ia merasa berhutang budi. Terutama waktu proses membangun kembali partai, Aidit sepenuhnya bersandar pada kekuatan SC Surakarta. Itulah yang tidak pernah bisa dilupakan olehnya,” tutur Siswoyo dalam memoarnya.

Wajah Aidit memang sepintas mirip keturunan Tionghoa. Rambutnya dipotong cepak (pendek). Tidak ketinggalan, ke mana-mana ia selalu membawa meteran, karena ia menyamar sebagai tukang jahit. Sehari-hari, bila bepergian Aidit selalu mengendarai sepeda. Waktu itu Aidit belum menikah.

Dalam masa-masa persembunyiannya di Solo, pernah terjadi peristiwa yang lucu sekaligus menegangkan. Suatu hari dalam perjalanannya menuju pos partai, tepatnya di sekitar perempatan Pasar Legi, tanpa diduga ada razia yang dilakukan tentara Belanda. Aidit tidak menyangka dan tidak dapat mengelak. Ia dalam posisi terjebak. Tapi ia berusaha tetap tenang, sekalipun jantungnya berdebar-debar keras. Ketika tiba gilirannya digeledah, seketika ia menemukan akal. Ia segera menunjukkan gulungan meteran, sambil berkata: “We, Cina kleermaker, Meneer….”

Melihat potongan Aidit yang mirip orang Tionghoa, serdadu Belanda yang menggeledah tidak menaruh curiga. “Oh, goed… goed,” sambil mempersilahkan Aidit pergi.

“Kamsya,… kamsya,… Meneer,” kata Aidit. Sepeda pun segera dikayuh dengan kencang menuju pos partai di Sondakan.

Sampai di pos partai, masih terlihat nafas Bung Aidit terengah-engah. Ia segera menceritakan kejadian yang baru dialaminya. “Aduuh, Sis, saya hampir saja tertangkap Belanda.”

“Lho, di mana?” Tanya Siswoyo. Bung Aidit kemudian cerita panjang lebar. Selesai bercerita, mereka berdua pun tertawa terpingkal-pingkal.

***

DASAR KONSEPSI PANCA CINTA
Penulis: Andreas Joko Waskito
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close