OpiniPendidikan

74 Tahun Indonesia Merdeka: Tentang Peristiwa Rengasdengklok

Oleh: Andreas Joko Waskito

Tentang Peristiwa RengasdengklokDIPELOPORI para prajurit PETA, pada 16 Agustus 1945, di wilayah Rengasdengklok berlangsung perebutan kekuasaan dan pernyataan kemerdekaan. Bendera Merah Putih berkibar di mana-mana. Rakyat pun sudah berkumpul di muka Chudan. Pada pukul 09.00 pagi (waktu Tokyo), Wedana Mitsui, bersama stafnya dan sejumlah orang Jepang sudah ditahan. Lalu Camat Sujono Hadipranoto diangkat sebagai pejabat baru. Para pemuda dalam organisasi Seinendan dan Keibodan juga diaktifkan kembali.

Pergantian pimpinan dan pernyataan kemerdekaan ini digelar di lapangan kecamatan. Sujono Hadipranoto bertindak selaku inspektur upacara. Kemudian dilakukan upacara penurunan Hinomaru (bendera Jepang) dan penaikan bendera Merah Putih. Demikian Oemar Bahsan menulis dalam bukunya “PETA dan Peristiwa Rengasdengklok”, NV Melati, Bandung,1955. Kata Pengantar buku ini ditulis khusus oleh tokoh pendiri PETA, Gatot Mangkuprodjo.

Memang, “… Pemberontakan tentara PETA di Rengasdengklok adalah bentuk perlawanan pertama terhadap otoritas Jepang dan aksi itu segera meluas. Pada 16 Agustus 1945, satu regu tentara PETA di Karawang melucuti balatentara Jepang…,” tulis Robert Cribb dalam “Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949”.

Kerusuhan lantas meluas, menyusul berita menyerahnya Jepang pada 15 Agustus 1945 tersebar luas di kalangan rakyat. Ini pula yang membuat gelisah golongan muda (para pemuda radikal), yang ingin segera menyatakan kemerdekaan, ketika melihat sikap pemimpin nasionalis golongan tua yang memilih bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan situasi lebih baik.

Baca Juga:  MENGAMBIL HIKMAH PERISTIWA HIROSHIMA-NAGASAKI DAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA

Padahal, menurut Robert Cribb, golongan muda sudah menemukan satu daerah yang aman di luar kota Jakarta, yaitu Rengasdengklok, sebuah kota kecil di wilayah rawa-rawa delta Sungai Citarum. Oemar Bahsan, komandan PETA setempat, telah menduduki kota ini pada 16 Agustus 1945.

Adalah Shodancho Singgih (perwira PETA dari Daidan I Jakarta) yang akhirnya memimpin penculikan dwitunggal Soekarno-Hatta, untuk kemudian dibawa menuju Rengasdengklok. Mereka tiba 16 Agustus 1945, sekitar pukul 08.10 (waktu Tokyo). Para tokoh PETA dan pemuda yang datang bersama Soekarno-Hatta di antaranya adalah Chudancho Dr. Soetjipto, Soekarni, dan Joesoef Koento. Tapi ketiganya tidak sampai siang hari, telah meninggalkan Rengasdengklok.

Chudan Rengasdengklok (setingkat kompi) dipimpin oleh Chudancho Subeno. Chudan ini memiliki 3 buah Shodan (setingkat pleton) yaitu Shodan 1 dipimpin Shodancho Suharjana, Shodan 2 dipimpin Shodancho Oemar Bahsan, dan Shodan 3 dipimpin Shodancho Affan.

Ketika Soekarno-Hatta, Fatmawati dan Guntur tiba, hari sudah terang. “… Para prajurit menyambut para tetamu setengah tawanan ini. Mereka berteriak, Hidup Bung Karno, Hidup Bung Hata. Indonesia sudah merdeka. Jepang sudah modar (mati)….” Demikian menurut Oemar Bahsan.

Para pemuka bangsa ini ditempatkan di rumah Chudancho Subeno. Tapi khawatir mencolok, kemudian dipindahkan ke rumah seorang China bernama Giau I Siong atau Djiauw Kie Siong.

Baca Juga:  The Color of the Heart and Soul

Sekitar pukul 11.00, datang rombongan lain ke Chudan, antara lain Syuchokan (residen) Soetardjo Hadikoesoemo, Kenco Purwakarta (Bupati) Pandu, Fuku Kencho Purwakarta (patih) Djuarsa, Soncho Batujaya (camat) Bunyamin. Kedatangan mereka tidak sengaja, karena kebetulan sedang mengontrol tanaman padi. Setelah tengah hari Soetardjo bergabung dengan rombongan Soekarno-Hatta.

Sore hari pukul 17.00 tiba di Rengasdengklok Mr. Soebardjo, diantar Joesoef Koento dan Shodancho Sulaiman. Maksudnya mau menjemput Soekarno-Hatta untuk dibawa kembali ke Jakarta. Setelah itu rombongan yang baru datang ini dipertemukan dengan Soekarno-Hatta termasuk Soetardjo. Pada pukul 18.00 perundingan dimulai. Dan hasil perundingan, Soekarno-Hatta setuju esok hari, setibanya di Jakarta, akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pukul 19.30 rombongan kembali ke Jakarta.

Dalam berbagai penulisan sejarah, Peristiwa Rengasdengklok, justru terkesan dikecilkan. Begitu pun peran Oemar Bahsan seperti sengaja dihilangkan. Apalagi peristiwa upacara penurunan bendera Hinomaru, yang kemudian diganti menaikkan bendera Merah Putih, tak pernah diceritakan. Adakah ini karena peristiwa Rengasdengklok lebih dominan dilakukan oleh elemen-elemen golongan pemuda kiri? Seperti Oemar Bahsan, misalnya.

Selanjutnya, keesokan harinya, Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00, bertempat di Pegangsaan Timur 56, berlangsung pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno-Hatta, dilanjutkan pengibaran bendera Merah Putih. Dan peristiwa ini selalu diperingati sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

***

DASAR KONSEPSI PANCA CINTA
Penulis: Andreas Joko Waskito

 

 

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close